Event

Kanker Paru: Tidak Hanya Terjadi pada Perokok

ditinjau oleh dr. Devi Elora - KALGen Academia Team
13 March 2026
Bagikan
Share to Facebook Share to Twitter Share to Whatsapp

Selama ini kanker paru sering dianggap sebagai penyakit yang hanya dialami oleh perokok. Padahal, kenyataannya penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia dan dapat terjadi pada siapa saja, termasuk orang yang tidak pernah merokok.

Menurut Global Cancer Observatory (GLOBOCAN), pada tahun 2022 terdapat sekitar 2,48 juta kasus baru kanker paru di seluruh dunia. Pada tahun yang sama, kanker paru juga menyebabkan sekitar 1,8 juta kematian, menjadikannya sebagai penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia. Di Indonesia, angka kasus kanker paru juga tergolong tinggi. Data GLOBOCAN 2022 mencatat sekitar 38.904 kasus baru kanker paru setiap tahun. Jumlah ini menempatkan kanker paru sebagai kanker dengan jumlah kasus terbanyak kedua di Indonesia setelah kanker payudara. Selain itu, kanker paru juga menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi di Indonesia.

Para ahli memperkirakan bahwa kasus kanker paru masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi, penuaan masyarakat, serta paparan berbagai faktor risiko seperti polusi udara, asap rokok pasif, dan zat kimia di lingkungan kerja. Fakta ini menunjukkan bahwa kanker paru tidak hanya terjadi pada perokok, tetapi juga dapat dialami oleh orang yang tidak pernah merokok. Oleh karena itu, memahami berbagai faktor risiko menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesadaran, pencegahan, dan deteksi dini.

Selain Rokok, Apa Saja Faktor Risiko Kanker Paru?

Meskipun merokok dikenal sebagai penyebab utama kanker paru, kenyataannya penyakit ini tidak selalu berkaitan langsung dengan kebiasaan tersebut. Ada berbagai faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalaminya. Salah satunya adalah asap rokok pasif, yaitu paparan asap dari rokok orang lain yang tetap dapat berdampak pada kesehatan paru-paru, bahkan pada individu yang tidak pernah merokok.

Selain itu, terdapat faktor yang sering luput dari perhatian, yaitu paparan radon. Radon merupakan gas radioaktif alami yang berasal dari tanah dan batuan. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, namun jika terakumulasi di dalam ruangan dan terhirup dalam jangka waktu lama, dapat meningkatkan risiko kanker paru. Risiko juga dapat muncul dari paparan zat berbahaya di lingkungan kerja, seperti asbes, arsenik, silika, atau asap knalpot diesel yang sering ditemukan di beberapa sektor industri.

Di luar itu, faktor lingkungan dan kondisi kesehatan juga berperan. Polusi udara, paparan arsenik dalam air minum pada kadar tinggi, serta riwayat pribadi atau keluarga dengan kanker paru dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap penyakit ini. Risiko tersebut juga cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.

Berbagai faktor ini menunjukkan bahwa kanker paru bukan hanya berkaitan dengan kebiasaan merokok semata. Lingkungan, paparan zat tertentu, serta kondisi kesehatan individu juga memiliki peran penting dalam memengaruhi risiko terjadinya kanker paru.

Apakah Non-Perokok Memiliki Risiko yang sama dengan Perokok? 

Perokok memiliki risiko kanker paru yang jauh lebih tinggi dibandingkan non-perokok. Menurut World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 80–90% kasus kanker paru berhubungan dengan kebiasaan merokok. Zat kimia berbahaya dalam asap rokok dapat merusak sel paru-paru dan memicu perubahan genetik yang akhirnya berkembang menjadi kanker.

Namun, kenyataannya tidak semua penderita kanker paru adalah perokok. International Agency for Research on Cancer (IARC) melaporkan bahwa sekitar 10–20% kasus kanker paru di dunia terjadi pada orang yang tidak pernah merokok. Bahkan dalam beberapa kasus, kanker paru pada non-perokok sering baru terdeteksi ketika sudah berada pada tahap lanjut karena gejalanya tidak selalu disadari sejak awal.

Risiko ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain. Paparan asap rokok pasif, misalnya, diketahui menjadi salah satu penyebab kanker paru pada orang yang tidak merokok. Selain itu, radon. Faktor lingkungan lain seperti polusi udara, paparan zat kimia berbahaya di tempat kerja (seperti asbes atau arsenik), serta riwayat keluarga juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kanker paru.

Karena itu, meskipun risikonya lebih rendah dibandingkan perokok aktif, non-perokok tetap memiliki kemungkinan mengalami kanker paru. Fakta ini menunjukkan bahwa kanker paru bukan hanya berkaitan dengan kebiasaan merokok, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan dan kondisi kesehatan lainnya.

Batuk berkepanjangan? Awas, Bisa Jadi Gejala! 

Batuk yang tidak kunjung membaik sering dianggap sebagai masalah kesehatan biasa, seperti flu, alergi, atau iritasi tenggorokan. Namun, jika batuk berlangsung lebih dari beberapa minggu dan disertai gejala lain seperti sesak napas, nyeri dada, atau penurunan berat badan tanpa sebab, kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan. Dalam beberapa kasus, gejala tersebut dapat menjadi tanda awal gangguan serius pada paru-paru, termasuk kanker paru.

Sayangnya, kanker paru sering berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Banyak kasus baru terdeteksi ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Karena itu, pemeriksaan dini menjadi sangat penting. Salah satu metode yang dapat membantu mendeteksi kanker paru lebih awal adalah skrining menggunakan low-dose CT scan (LDCT).

Jika Anda memiliki faktor risiko seperti riwayat merokok, sering terpapar asap rokok, polusi udara, atau memiliki riwayat keluarga dengan kanker paru, melakukan skrining paru secara berkala dapat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.

Sebagai laboratorium diagnostik, KALGen Innolab menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan dengan dukungan teknologi diagnostik modern dan tim ahli berpengalaman untuk membantu mendeteksi risiko penyakit secara lebih dini, sehingga kondisi kesehatan paru dapat dipantau dan potensi gangguan dapat dikenali lebih awal. 

Kesimpulan

Kanker paru sering kali dianggap hanya terjadi pada perokok, padahal kenyataannya penyakit ini dapat dialami oleh siapa saja, termasuk orang yang tidak pernah merokok. Selain kebiasaan merokok, berbagai faktor lain seperti paparan asap rokok pasif, polusi udara, radon, zat kimia berbahaya di lingkungan kerja, serta riwayat keluarga juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker paru.

Karena pada tahap awal kanker paru sering berkembang tanpa gejala yang jelas, kesadaran untuk memahami faktor risiko dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi sangat penting. Deteksi dini dapat membantu menemukan penyakit lebih awal, sehingga peluang penanganan yang efektif dan keberhasilan pengobatan menjadi lebih tinggi. Salah satu pendekatan yang kini semakin berkembang adalah pemeriksaan genetik, yang dapat membantu mengidentifikasi perubahan gen tertentu yang berperan dalam perkembangan kanker paru.

Referensi 

American Cancer Society. (2024). Lung cancer risk factors.
https://www.cancer.org/cancer/types/lung-cancer/causes-risks-prevention/risk-factors.html

Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Lung cancer risk factors. U.S. Department of Health & Human Services.
https://www.cdc.gov/lung-cancer/risk-factors/index.html

Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Lung cancer among people who never smoked. U.S. Department of Health & Human Services.
https://www.cdc.gov/lung-cancer/nonsmokers/index.html

International Agency for Research on Cancer. (2024). Lung cancer fact sheet. Global Cancer Observatory.
https://gco.iarc.who.int

International Agency for Research on Cancer. (2022). Indonesia cancer fact sheet. Global Cancer Observatory. https://gco.iarc.who.int/today/data/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheets.pdf

International Atomic Energy Agency. (2024). ImPACT review: Cancer control capacity in Indonesia. https://www.iaea.org

World Health Organization. (2023). Cancer: Lung cancer.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer

National Cancer Institute. (2024). Lung cancer prevention and risk factors.
https://www.cancer.gov/types/lung/patient/lung-prevention-pdq

Baca Juga Yang Lainnya

Kanker Payudara Stadium Awal: Apakah Selalu Perlu Kemoterapi?
ditinjau oleh dr. Devi Elora - KALGen Academia Team
13 March 2026
Kanker Paru: Tidak Hanya Terjadi pada Perokok
ditinjau oleh dr. Devi Elora - KALGen Academia Team
13 March 2026
Gen BRCA dan Kanker Payudara: Apakah Anda Perlu Tes Genetik?
ditinjau oleh dr. Devi Elora - KALGen Academia Team
11 March 2026
Artikel Lainnya
Kanker Payudara Stadium Awal: Apakah Selalu Perlu Kemoterapi?
kanker-payudara-stadium-awal-perlukah-kemoterapi
Kanker Paru: Tidak Hanya Terjadi pada Perokok
kanker-paru-tidak-hanya-terjadi-pada-perokok
Gen BRCA dan Kanker Payudara: Apakah Anda Perlu Tes Genetik?
gen-brca-risiko-kanker-payudara-tes-genetik
Benarkah Kanker Payudara Hanya Terjadi pada Wanita dengan Riwayat Keluarga?
risiko-kanker-payudara-karena-riwayat-keluarga
LOADING ...